LAPORAN PENDAHULUAN TINGKAT KETERGANTUNGAN PASIEN

 

LAPORAN PENDAHULUAN

TINGKAT KETERGANTUNGAN PASIEN

 

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Menyelesaikan Praktik Profesi Ners Angkatan XV Departemen Manajemen Keperawatan

 


 

Disusun Oleh:

Sri Wahyuni, S.Kep.

NPM: 4012200003

 

 

 

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)

BINA PUTERA BANJAR

2020

 


 

TINGKAT KETERGANTUNGAN PASIEN

 

A.    Tingkat Ketergantungan Pasien Diklasifikasikan Berdasarkan Teori Dorothea Orem

Menurut Orem asuhan keperawatan dilakukan dengan keyakinan bahwa setiap orang mempelajari kemampuan untuk merawat diri sendiri sehingga membantu individu memenuhi kebutuhan hidup, memelihara kesehatan dan kesejahteraan. Teori ini dikenal dengan teori self care (perawatan diri). Klasifikasi tingkat ketergantungan pasien berdasarkan teori Dorothea Orem yaitu:

1.      Minimal Care :

a.       Mampu naik turun tempat tidur

b.      Mampu ambulasi dan berjalan sendiri

c.       Mampu makan dan minum sendiri

d.      Mampu mandi sendiri/mandi sebagian dengan bantuan

e.       Mampu membersihkan mulut (sikat gigi sendiri)

f.       Mampu berpakaian dan berdandan dengan sedikit bantuan

g.      Mampu BAK dan BAB dengan sedikit bantuan

h.       Status psikologi stabil

i.         Pasien dirawat untuk prosedur diagnostik

j.         Operasi ringan

2.      Partial Care

a.        Membutuhkan bantuan satu orang untuk naik turun tempat tidur

b.       Membutuhkan bantuan untuk ambulasi atau berjalan

c.        Membutuhkan b antuan dalam menyiapkan makanan

d.       Membutuhkan bantuan untuk makan atau disuap

e.        Membutuhkan bantuan untuk kebersihan mulut

f.        Membutuhkan bantuan untuk berpakaian dan berdandan

g.       Membutuhkan bantuan untuk BAB dan BAK (tempat tidur/kamar mandi

h.       Pasca operasi minor (24 jam)

i.         Melewati fase akut dari pasca operasi mayor

j.         Fase awal dari penyembuhan

k.       Observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam

l.         Gangguan emosional ringan

3.      Total Care

a.       Membutuhkan dua orang atau lebih untuk mobilisasi dari tempat tidur

b.      Membutuhkan latihan pasif

c.       Kebutuhan nutrisi dan cairan dipenuhi melalui terapi intravena/NGT

d.      Membutuhkan bantuan untuk kebersihan mulut

e.       Membutuhkan bantuan penuh untuk berpakaian dan berdandan

f.       Dimandikan perawat.

g.      Dalam keadaan inkontinensia, menggunakan kateter.

h.      Keadaan pasien tidak stabil.

i.        Perawatan kolostomi.

j.        Menggunakan WSD.

k.      Menggunakan alat traksi.

l.        Irigasi kandung kemih secara terus menerus.

m.    Menggunakan alat bantu respirator.

n.      Pasien tidak sadar.

B.     Menurut Douglas

Mengklasifikasikan ketergantungan pasien berdasarkan standar waktu pelayanan pasien rawat inap sebagai berikut :

1.      Keperawatan Mandiri (Self care) : 1-2 jam/hari dimana pasien masih mampu melakukan pergerakan atau berjalan, makan, mandi maupun eleminasi tanpa bantuan. Bantuan hanya diberikan terhadap tindakan khusus.

2.      Keperawatan Sebagian (Partial Care) : 3-4 jam/hari dimana pasien masih punya kemampuan sebagian tetapi untuk melakukan pergerakan secara penuh seperti berjalan, bangun, makan, mandi dan eleminasi perlu dibantu oleh seorang perawat.

3.      Keperawatan Total (Total Care) : 5-7 jam/hari dimana pasien memerlukan bantuan secara penuh, atau tingkat ketergantungan pasien terhadap perawat sangat tinggi, seperti pasien yang tidak sadar, atau yang sangat lemah dan tidak mampu melakukan pergerakan, mandi dan eleminasi perlu dibantu dan pada umumnya memerlukan dua perawat.

Tabel 1. Jumlah tenaga keperawatan berdasarkan klasifikasi ketergantungan pasien

WAKTU KLASIFIKASI

KEBUTUHAN PERAWAT

Pagi

Sore

Malam

Minimal

0,17

0,14

0,07

intermediate

0,17

0,15

0,10

Maksimal

0,36

0,30

0,20

Petunjuk penetapan jumlah berdasarkan derajat ketergantungan :

1.      Dilakukan 1 kali sehari pada waktu yang sama dan sebaliknya dilakukan oleh perawat yang sama selama satu bulan.

2.      Setiap pasien dinilai berdasarkan kriteria klasifikasi pasien (minimal memenuhi tiga kriteria)

3.      Kelompok pasien sesuai dengan klasifikasi tersebut dengan memberi tanda tally (I) pada kolom yang tersedia sehingga dalam waktu satu hari dapat diketahui berapa jumlah pasien yang ada dalam klasifikasi minimal, parsial dan total.

4.      Bila hanya mempunyai satu kriteria dari hasil klasifikasi tersebut maka pasien dikelompokan pada klasifikasi di atasnya.

C.    Menurut Swanburg

1.      Self-care

Klien memerlukan bantuan minimal dalam melakukan tindak keperawatan dan pengobatan. Klien melakukan aktivitas perawatan diri sendiri secara mandiri. Biasanya dibutuhkan waktu 1-2 jam dengan waktu rata-rata efektif 1,5 jam/24 jam.

2.      Minimal care

Klien   memerlukan   bantuan   sebagian   dalam   tindak   keperawatan   dan pengobatan tertentu, misalnya pemberian obat intravena, dan mengatur posisi. Biasanya dibutuhkan waktu 3-4 jam dengan waktu rata-rata efektif 3,5 jam/24 jam.

3.      Intermediate care.

Klien biasanya membutuhkan waktu 5-6 jam dengan waktu rata-rata efektif 5,5 jam/24 jam.

4.      Mothfied intensive care

Klien biasanya membutuhkan waktu 7-8 jam dengan waktu rata-rata efektif 7,5 jam/24 jam.

5.      Intensive care

Klien biasanya membutuhkan 10-14 jam dengan waktu rata-rata efektif 12 jam/24 jam.

D.    Faktor Pendukung

1.      Penjadwalan

Metode penjadwalan siklis merupakan salah satu metode penjadwalan yang dapat digunakan untuk penjadwalan perawat. Dalam metode ini setiap perawat akan bekerja selama periode waktu tertentu dan akan berulang secara periodik.

2.      Catatan personal.

Setiap perawat melakukan pencatatan, diantaranya menulis diagnosa pasien, perencanaan tindakan, pengisian realisasi asuhan keperawatan, laporan sak peruang, laporan rekap sak peruang.

3.      Laporan bertahap.

Sesuai dengan rencana tindakan yang telah diberikan dilakukan penilaian untuk menilai keberhasilannya. Bila belum berhasil, perli disusun rencana baru yang sesuai. Semua tindakan keperaeatan mungkiin tidak dapat dilaksanakan dalam satu kali, maka dari itu perlu adanya laporan bertahap.

4.      Pengembangan anggaran.

Dalam tahun anggaran hanya dapat terealisasi sekitar 16% dari anggaran yang diusulkan, pendidikan perawat dengan latar belakang spk 31%. Perawat yang mempunyai pendidikan profesi satu orang, oleh sebab itu, RS belum mempunyai perencanaan untuk pelatihan bagi tenaga perawat yang berkesinambungan dan proaktif.

5.      Alokasi sumber dan pengendalian biaya

1)      RS tetap fokus pada bisnis inti pelayanan kesehatan.

2)      Mengatur alokasi sumber daya dibidang keperawatan secara epektif dan efisien.

3)      Mengumpulkan data untuk mengidentifikasi kegiatan layanan pasien yang sedang berjalan.

4)      Merekomendasikan strategi untuk meningkatka untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya.

6.      Analisa kelompok diagnosa yang berhubungan.

Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, dimana berdasarkan pendidikkan dan pengalamannya, perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga, menurunkan, membatasi mencegah dan merubah status kesehatan klien.

7.      Pengendalian mutu.

Salah satu cara untuk pengembangan dan pengendalian mutu keperawatan adalah dengan cara mengembangkan lahan praktek keperawatan disertai dengan adanya pembinaan masyarakat profesional keperawatan untuk melaksanakan pengalaman belajar dilapangan dengan benar bagi peserta didik.

8.      Catatan pengembangan staf

Membantu RS untuk dapat menyusun program pengembangan dan pelatihan staf yang lebih tepat guna. Sehingga RS akan mempunyai tenaga yang cukup tampil untuk pengembangan pelayanan perawatan dimasa depan.

9.      Model dan simulasi untuk pengambilan keputusan

DSS : Decission Support System “ Problem yang kompleks dapat diselesaikan “ DSS selain dapat dapat digunakan untuk membantu user mengambil keputusan dari data yang bersifat kuantitatif, dan dapat juga digunakan untuk membantu proses pengambilan keputusan yang bersipat kualitatif. DSS Dapat digunakan untuk mengidentifikasi kemudahan dan rintangan yang didapatkan ketika mengintegrasi perawat magang ke unit gawat darurat.

10.  Rencana strategi

Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasi pada diagnosa keperawatan. Tahap ini dimulai setelah menentukan diagnosa keperawatan dan menyimpulkan rencana dokumentasi ( Iyer, Taptich & Bernocchi-Losey, 1996). Secara tradisional, rencana keperawatan diartikan sebagai suatu dokumen tulisan tangan dalam menyelasaiakan masalah,tujuan dan intervensi. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, rencana keperawatan merupakan metode komunikasi tentang asuhan keperawatan kepada klien. Setiap klien yang memerlukan asuhan keperawatan perlu suatu perencanaan yang baik. Misalnya, semua klien pasca operasi memerlukan suatu pengamatan tentang pengelolaan cairan dan nyeri. Sehingga semua tindakan keperawatan harus distandarisasi. Dari Depkes R.I (1995).

11.  Rencana permintaan jangka pendek dan rencana kerja

Agar tenaga kerja kesehatan terus diupdate dengan teknologi terkini dan untuk memastikan mutu pelayanan yang diberikan kepada masyarakat, tenaga kerja kesehatan membutuhkan pelatihan jangka pendek yang diselenggarakan secara reguler.

12.  Evolusi program

Evolusi perkembangan sistem pelayanan kesehatan telah mengubah peran dan tanggung jawab perawat secara signifikan. Dalam perkembangan lebih lanjut, perawat dituntut untuk bertanggungjawab memberikan praktik yang aman dan epektif serta bekerja dalam lingkungan yang memiliki standar klinik yang tinggi (Mahlmeister, 1999).

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

DepKes RI. 2003. Indonesia sehat 2010. Jakarta : Departemen Kesehatan R.I

Douglas, Laura Mae. 1992. The effective Nurse : Leader and Manager ., 4 Th. Ed,. Mosby -year book, Inc.

Gillies, D.A. 1994. Nursing management, a system approach. Third Edition. Philadelphia :WB Saunders.

Marquis, B.L. dan Huston, C.J. 1998. Management Decision Making for Nurses(3rd ed). Philadelphia: Lippincot

Raven Publisher Marquis, B.L. dan Huston, C.J. 2000. Leaderships Roles and ManagementFunctions inNursing (3rd ed). Philadelphia: Lippincot

Raven Publisher Swansburg, R.C. & Swansburg, R.J. 1999. Introductory management andleadership fornurses. Canada : Jones and Barlett Publishers

 

Comments

Popular posts from this blog

LAPORAN PENDAHULUAN RONDE KEPERAWATAN