LAPORAN PENDAHULUAN MANAJEMEN KONFLIK
LAPORAN PENDAHULUAN
MANAJEMEN KONFLIK DALAM KEPERAWATAN
Diajukan
Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Stase
Manajemen
Keperawatan Program Profesi Ners
Stikes
Bina Putera Banjar
Disusun Oleh:
Sri Wahyuni, S.Kep.
NPM: 4012200003
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA
PUTERA BANJAR
PROGRAM STUDI NERS ANGKATAN KE-15
TAHUN AKADEMIK 2019-2020
Jl. Mayjen Lili Kusumah-Sumanding
Wetan No. 33
Kota Banjar
Tlp (0265) 741100 Fax (0265)
744043
web: www.stikesbp.ac.id
MANAJEMEN KONFLIK
A.
Pengertian Konflik
Konflik adalah masalah internal dan eksternal yang
terjadi sebagai akibat dari perbedaan pendapat, nilai-nilai, atau keyakinan
dari dua orang atau lebih. (Marquis & Huston 1998).
Konflik dapat dikategorikan sebagai suatu kejadian
atau proses. Sebagai suatu kejadian, konflik terjadi dari suatu ketidaksetujuan
antara dua orang atau organisasi dimana seseorang tersebut menerima sesuatu
yang akan mengancam kepentingannya. Sebagai proses, konflik dimanifestasikan
sebagai suatu rangkaian tindakan yang dilakukan oleh dua orang atau kelompok
berusaha menghalangi atau mencegah kepuasan diri seseorang.
Konflik adalah suatu hal yang penting dan secara aktif
mengajak organisasi untuk terjadinya suatu konflik yang berarti juga sebagai
pertumbuhan produksi. Teori ini menekankan bahwa konflik dapat berakibat
pertumbuhan produksi dan kehancuran organisasi, tergantung bagaimana
manajer mengolahnya. Karena konflik adalah suatu yang tidak dapat
dihindarkan dalam suatu organisasi, maka manajer harus mengolahnya dengan baik.
B. Kategori Konflik
Konflik dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu:
1.
Intrapersonal
Konflik yang terjadi pada individu sendiri. Keadaan ini merupakan
masalah internal untuk mengklarifikasikan nilai dan keinginan dari konflik yang
terjadi. Hal ini sering di manifestasikan sebagai akibat dari kompetisi peran.
Misalnya, manajer mungkin merasa konflik intrapersonal dengan loyalitas
terhadap profesi keperawatan, loyalitas terhadap pekerjaan dan loyalitas kepada
pasien.
2.
Interpersonal
Konflik yang terjadi antar dua orang atau lebih dimana nilai, tujuan dan
keyakinan berbeda. Konflik ini sering terjadi karena seseorang secara konstan
berinteraksi dengan orang lain sehingga ditemukan perbedaan-perbedaan. Manajer
sering mengalami konfik dengan teman sesama manajer, atasan dan bawahannya.
3.
Intergroup ( Antar Kelompok )
Konflik terjadi antara dua atau lebih dari kelompok orang, departemen
atau organisasi. Sumber jenis konflik ini adalah hambatan dalam mencapai
kekuasaan dan otoritas (kualitas jasa layanan), keterbatasan prasarana.
Konflik yang terjadi pada suatu organisasi
merefleksikan konflik intrapersonal, interpersonal dan antar kelompok. Tapi
dalam organisasi konflik dipandang sebagai konflik secara vertikal dan
horizontal (Marquis & Huston, 1998).Konflik vertikal terjadi atasan dan
bawahan. Konflik horizontal terjadi antara staf dengan kedudukan atau posisi
yang sama. Misalnya konflik horizontal ini meliputi wewenang, keahlian dan
praktik.
C.
Tipe konflik
Konflik timbul didalam diantara dan antara orang- orang
adanya perbedaan adanya pada kenyataan definisi, pandangan, otoritas, tujuan,
nilai, dan kendali konflik dalam organisasi secra strukturan dapat
dikategorikan sebagai konflik vertika atau horizontal.Konflik vertical meliputi
perbedaan antara pemimpin dan anak buah. Hal inin sering diakibatkan oleh
komunikasi dan kurang penyebaran persepsi dan perilaku yang tepat untuk peran
diri sendiri atau orang lain. Konflik horizontal adalh garis konflik antara staff
dan ada hubungan dengan praktik keahlian otoritas, dan sebagainya. Sering
berupa perselisihan antar departemen:
1. Konflik di dalam pengirim
Pengirim
sama pesan saling berlawaan. Contoh pemimpin yang sama menutut pelayanan yang
tinggi, menolak memecat anggota staff tidak kompeten dan menolak pengontrak
staff tambahan.
2. Antar pengirim
Pesan-pesan yang berlawan dari dua atau
lebih pengirim. Contoh pimpinan tertinggi dari keperawatan menekankan kebutuhan
untuk memakai keperawatan menekankan kebutuhan untuk memakai keperawatan primer
sebagai model pelayanan keperawatan; anak buah yakin bahwa mereka dapat
mencapai layanan keperawatan yang individual dan bermutu dengan menggunakan
metode keperawatan tim.
3. Antar pesan
Orang
yang sama ternasuk didalam kelompok- kelompok yang berkonflik. Contoh Direktur
keperawatan adalah seorang anggota kelompok konsumen masyarakat yang sedang
berusaha untuk mengkonsilidasi pelatyanan obsteri dan pediatric didaerahnya,
dengan menempatkan semau ahli pediatric terbagi diantara dua rumah sakit
lainya. Perawat yang sama juga merupakan pegawai di salah satu rumah sakit yang
ingin tetap mempertahankan kedua pelayanan tersebut dirumah sakitnya.
4. Peran pribadi
Orang
yang sama nilai-nilainya berlawanan (ketidak sesuaian kognitif). Contoh
perawat percaya bahwa pasien di klinik harus menerima perhatian individual dari
seseorang perawat yang mengikuti perkembangannya pada setiap kunjungan. Syarat-syarat dari kedudukannya dan sistem pelayanan yang ada membuat
tujuan ini jarang bisa tercapai, jika tidak boleh dibilang bahwa tidak mungkin
tercapai.
5. Antar pribadi
Dua
atau lebih orang bertindak sebagai pendukung kelompok-kelompok yang berbeda.
Contoh direktur keperawatan bersaing dengan direktur lain untuk sebuah posisi
baru.
6. Didalam kelompok
Nilai-nilai
baru dari luar dimasukkan pada kelompok yang ada. Contoh pendidikan yang
berkelajutan diwajibkan oleh pemerintah untuk setiap perpanjangan ijin keperawatan. Lembaga pelayanan
kesehatan desa tidak mempunyai dana untuk pengirim perawat untuk mengikuti program
pendidikan berkelanjutan, dan staff perawat, yang dibayar murah tetapi
puas, tidak dapat membianyayi sendiri pendidikan lanjutan mereka.
7. Antar kelompok
Dua
atau lebih kelompok dengan tujuan yang berlawanan.Contoh departemen keperawatan
menuntut bahwa para perawata diruang operasi dan pemulihan secara organisional
berada dibawah keperwatan. Departemen bedah, yang terdiri dari
dari para dokter, menyakini bahwa mereka harus mengendalikan perawat- perawat
di area ini.
8. Peran mendua
Seseorang
tidak menyadari harapan olrang lain terhadap sebuah peran tertentunya. Contoh
seorang pengawas perawat yang baru tidak mempunyai gambaran tentang
posisinya dan tidak mempunyai pengalaman sebelumnnya sebagai pengawas.
9. Beban peran yang terlalu
Seseorang
tidak dapat memenuhi harapan orang lain untuk perannya. Contoh seorang sarjana
muda baru diharapkan oleh direktur keperawatan untuk bertanggung jawab terhadap
40 tempat tidur di unit penyakit kronis dan akut pada dinas malam.
D.
Penyebab Konflik
Banyak faktor yang bertanggungjawab terhadap terjadinya
konflik terutama dalam suatu organisasi. Faktor-faktor tersebut dapat berupa
perilaku yang menentang, stres, kondisi ruangan, kewenangan dokter-perawat,
keyakinan, eksklusifisme, kekaburan tugas, kekurangan sumber daya, proses perubahan,
imbalan, dan masalah komunikasi.
1. Perilaku menentang, sebagai bentuk
dari ancaman terhadap suatu dialog rasional, dapat menimbulkan gangguan protokol penerimaan untuk interaksi dengan
orang lain. Perilaku ini dapat berupa verbal dan non verbal. Terdapat tiga
macam perilaku menentang, yaitu :
a. Competitive bomber, yang dicirikan dengan perilaku
mudah menolak, menggerutu dan menggumam, mudah untuk tidak masuk kerja, dan
merusak secara agresif yang di sengaja.
b. Martyred accommodation, yang ditunjukkan dengan penggunaan
kepatuhan semu atau palsu dan kemampuan bekerja sama dengan orang lain, namun
sambil melakukan ejekan dan hinaan.
c. Avoider, yang ditunjukkan dengan
penghindaran kesepakatan yang telah dibuat dan menolak untuk berpartisipasi.
2. Stres, juga dapat mengkobatkan
terjadinya konflik dalam suatu organisasi. Stres yang timbul ini dapat
disebabkan oleh banyaknya stressor yang muncul dalam lingkungan kerja
seseorang. Contoh stressor antara lain terlalu banyak atau terlalu sedikit
beban yang menjadi tanggung jawab seseorang jika dibandingkan dengan orang lain
yang ada dalam organisasi, misalnya di bangsal keperawatan.
3. Kondisi ruangan yang terlalu sempit
atau tidak kondusif untuk melakukan kegiatan-kegiatan rutin dapat memicu
terjadinya konflik. Hal yang memperburuk keadaan dalam ruangan dapat berupa
hubungan yang monoton atau konstan diantara individu yang terlibat didalamnya,
terlalu banyaknya pengunjung pasien dalam suatu ruangan atau bangsal, dan
bahkan dapat berupa aktivitas profesi selain keperawatan, seperti dokter juga
mampu memperparah kondisi ruangan yang mengakibatkan terjadinya konflik.
4. Kewenangan dokter-perawat yang
berlebihan dan tidak saling mengindahkan usulan-usulan diantara mereka, juga
dapat mengakibatkan munculnya konflik. Dokter yang tidak mau menerima umpan
balik dari perawat, atau perawat yang merasa tidak acuh dengan saran-saan dari
dokter untuk kesembuhan klien yang dirawatnya, dapat memperkeruh suasana.
Kondisi ini akan semakin “runyam” jika diantara pihak yang terlibat dalam pengelolaan
klien merasa direndahkan harga dirinya akibat sesuatu hal. Misalnya kata-kata
ketus dokter terhadap perawat atau nada tinggi dari perawat sebagai bentuk
ketidak puasan tehadap penanganan yang dilakukan profesi lain.
5. Perbedaaan nilai atau keyakinan antara
satu orang dengan orang lain. Perawat begitu percaya dengan persepsinya tentang
pendapat kliennya sehingga menjadi tidak yakin dengan pendapat yang diusulkan
oleh profesi atau tim kesehatan lain. Keadaan ini akan semakin menjadi kompleks
jika perbedaan keyakinan, nilai dan persepsi telah melibatkan pihak diluar tim
kesehatan yaitu keluarga pasien. Jika ini telah terjadi, konflik yang muncul
pun semakin tidak sederhana karena telah mengikutsertakan banyak variable di
dalamnya.
6. Eksklusifisme, adanya pemikiran bahwa kelompok
tertentu memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan dengan kelompok lain. Hal
ini tidak jarang mengakibatkan terjadinya konflik antar-kelompok dalam suatu
tatanan organisasi. Hal ini bisa terjadi manakala sebuah kelompok didalam tatanan
organisasi (seperti bangsal keperawatan) diberikan tanggung jawab oleh manager
untuk suatu tugas tertentu atau area pelayanan tertentu, lantas memisahkan diri
dari sistem atau kelompok lain yang ada dibangsal tersebut karena merasa bahwa
kelompoknya lebih mampu dibandingakan dengan kelompo lain.
7. Peran ganda yang disandang seseorang
(perawat) dalam bangsal keperawatan seringkali mengakibatkan konflik seorang
perawatan yang berperan lebih dari satu peran pada waktu yang hamper bersamaan,
masih merupakan fenomena yang jamak ditemukan dalam tatanan pelayanan kesehatan
baik di rumah sakit maupun di komunitas. Contoh peran ganda, antara lain satu
sisi perawat sebagai pemberi pelayanan keperawatan kepada klien, namun pada
saat yang bersamaan yang harus juga berperan sebagai pembimbing mahasiswa atau
bahkan sebagai manager dibangsal yang bersangkutan. Dalam kondisi ini sering
terjadi kebingunan untuk menentukan mana yang harus dikerjaka terlebih dahulu
oleh perawat tersebut dan kegiatan mana yang dapat dilakukan kemudian.Akibatnya,
sering terjadi kegagalan melakukan tanggung jawab dan tanggung gugat untuk
suatu tugas pada individu atay kelompok.
8. Kekurangan sumber daya insani, dalam
tatanan organisasi dapat dianggap sumber absolute terjadinya konflik. Sedikinya
sumber daya insani atau manusia, sering memicu terjadinya persaingan yang tidak
sehat dalam suatu tatanan organisasi.Contoh konflik yang dapat terjadi, yaitu
persaingan untuk memperoleh uang melalui pemikiran bahwa segala sesuatu pasti
di hubungkan dengan uang, persaingan memperebutkan menangani klien, dan tidak
jarang juga terjadi persaingan dalam memperebutkan jabatan atau kedudukan.
9. Perubahan dianggap sebagai proses
ilmiah. Tetapi kadang perubahan justru akan mengakibatkan munculnya berbagai
macam konflik. Perubahan yang dilakukan terlalu tergesa-gesa atau cepat, atau
perubahan yang dilakukan terlalu lambat, dapat memunculkan konflik.Individu
yang tidak siap dengan perubahan, memandang perubahan sebagai suatu ancaman.
Begitu juga individu yang selalu menginginkan perubaan akan menjadi tidak
nyaman bila tidak terjadi perubahan, atau perubahan dilakukan terlalu dalam
tatanan organisasinya.
10. Imbalan, beberapa ahli berpendapat
bahwa imbalan kadang tidak cukup berpengaruh dengan motovasi seseorang. Namun,
jika imbalan dikaitkan dengan pembagian yang tidak merata anatar satu orang dan
orang lain sering menyebabkan munculnya konflik. Terlebih lagi bila individu
yang bersangkutan tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan untuk menentukan
besar-kecilnya imbalan atau sering disebut dengan sistem imbalan.Pemberian
imbalan yang tidak didasarkan atas pertimbangan professional sering menimbulkan
masalah yang pada gilirannya dapat memunculkan suatu konflik.
11. Komunikasi dapat memunculkan suatu
konflik jika penyampaian informasi yang tidak seimbang, hanya orang-orang
tertentu yang diajak biacar oleh manager, penggunaan bahasa yang tidak efektif,
dan juga penggunaan media yang tidak tepat sering kali berujung dengan
terjadinya konflik ditatanan organisasi yang bersangkutan.
E.
Proses Konflik
Proses Konflik di bagi menjadi beberapa tahapan antara
lain :
1.
Konflik Laten
Tahapan konflik yang terjadi terus menerus (laten) dalam suatu
organisasi. Misalnya, kondisi tentang keterbataan staf dan perubahan yang
cepat.Kondisi tersebut memicu pada ketidak stabilan suatu organisasi dan
kualitas produksi, meskipun konflik yang ada kadang tidak tampak secara nyata
atau tidak pernah terjadi.
2.
Konflik yang dirasakan (felt konflik)
Konflik yang terjadi karena adanya suatu yang dirasakan sebagai ancaman,
ketakutan, tidak percaya, dan marah.Konflik ini disebut juga sebagai
konflik “affectives”. Hal ini penting bagi seseorang untuk menerima
konflik dan tidak merasakan konflik tersebut sebagai suatu maslah/ancaman
terhadap keberadaannya.
3.
Konflik yang nampak/sengaja ditimbulkan
Konflik yang sengaja dimunculkan untuk mencari solusi. Tindakan yang
dilaksanakan mungkin menghindar, kompetisi, debat atau mencari penyelesaian
konflik. Setiap orang tidak sadar belajar menggunakan kompetisi, kekuatan dan
agresivitas dalam menyelesaikan konflik dalam perkembangannya. Sedangkan
penyelesaian konflik dalam suatu organisasi, memerlukan suatu upaya dan
strategi untuk mencapai tujuan organisasi.
4.
Resolusi konflik
Resolusi konflik adalah suatu penyelesaian masalah dengan cara memuaskan
semua orang yang terlibat di dalamnya dengan prinsip “win-win solution”.
5.
Konflik “Aftermatch”
Konflik yang terjadi akibat dari tidak terselesaikannya konflik yang
pertama. Konflik ini akan menjadi masalah besar kalau tidak segera diatasi atau
dikurangi penyebab dari konflik yang sama.
F. Penyelesaian
Konflik
Vestal (1994) menjabarkan
langkah-langkah menyelesaikan suatu konflik meliputi :
1.
Pengkajian
a.
Analisa situasi
Identifikasi jenis konflik untuk menentukan waktu yang diperlukan.
Setelah fakta dan memvalidasi semua perkiraan melalui pengkajian lebih
mendalam. Kemudian siapa yang terlihat dan peran masing-masing. Tentukan jika
situasinya bisa berubah.
b.
Analisa dan mematikan isu yang berkembang
Jelaskan masalah dan prioritas fenomena yang terjadi. Tentukan masalah
utama yang memerlukan suatu penyelesaian dimulai dari masalah tersebut. Hindari
penyelesaian semua masalah dalam satu waktu.
c.
Menyusun tujuan
Jelaskan tujuan spesifik yang akan dicapai.
2.
Identifikasi
Identifikasi dilakukan dengan mengelola perasaan. Hindari suatu respon
emosional : marah, dimana setiap orang mempunyai respon yang berbeda terhadap
kata-kata, ekspresi dan tindakan.
3.
Intervensi
a.
Masuk pada konflik
b.
Diyakini dapat diselesaikan dengan baik.
c.
Identifikasi hasil yang positif yang akan terjadi.
d.
Menyeleksi metode dalam menyelesaikan konflik
e.
Penyelesaian konflik memerlukan strategi yang
berbeda-beda. Seleksi metode yang paling sesuai untuk menyelesaikan konflik
yang terjadi.
G. Strategi Penyelesaian Konflik
Strategi penyelesaian konflik dapat dibedakan menjadi
6 :
1.
Kompromi atau Negosiasi
Suatu strategi penyelesaian konflik dimana semua yang terlibat saling
menyadari dan sepakat tentang keinginan bersama. Penyelesaian seperti ini
sering diartikan sebagai “lose-lose situation” kedua unsur
yang terlibat menyerah dan menyepakati hal yang telah dibuat. Didalam manajemen
keperawatan strategi ini sering digunakan oleh middle dan top manajer
keperawatan.
2.
Kompetisi
Strategi ini dapat diartikan sebagai “win-lose” penyelesaian
konflik. Penyelesaian ini menekankan bahwa hanya ada satu orang atau kelompok
yang menang tanpa mempertimbangkan yang kalah. Akibat negatif dari strategi ini
adalah kemarahan, putus asa dan keinginan untuk perbaikan da masa mendatang.
3.
Akomodasi
Istilah yang lain sering digunakan adalah ”cooprative”. Konflik
ini berlawanan dengan kompetisi. Pada strategi ini seseorang berusaha
mengakomodasi permasalahan-permasalahan dan memberi kesempatan orang lain untuk
menang. Masalah utama pada strategi sebenarnya tidak terselesaikan.Strategi ini
biasanya sering digunakan dalam suatu politik untuk suatu kekuasaan dengan
berbagai konsekwensinya.
4.
Smoothing
Penyelesaian konflik dengan mengurangi komponen emosional dalam konflik.
Pada strategi ini individu yang terlibat dalam konflik berupaya mencapai kebersamaan
dari pada perbedaan dengan penuh kesadaran dan introspeksi diri. Strategi ini
bisa ditetapkan pada konflik yang ringan, tetapi untuk konflik yang besar
misalnya persaingan pelayanan/hasil produksi dan tidak dapat dipergunakan.
5.
Menghindar
Semua yang terlibat dalam konflik, pada strategi ini menyadari tentang
masalah yang dihadapi tetapi memilih untuk menghindar atau tidak menyelesaikan
masalahnya. Strategi ini dipilih bila ketidaksepakatan adalah membahayakan
kedua pihak,biaya penyelesaian lebih besar dari pada menghindar, atau maslah
perlu orang ketiga dalam menyelesaikannya atau jika masalah dapat terselesaikan
dengan sendirinya.
6.
Kolaborasi
Strategi ini merupakan strategi “win-win solution” pada
koloaborasi kedua unsur terlibat menentukan tujuan bersama dan bekerja sama
dalam mencapai suatu tujuan. Karena keduanya meyakini akan mencapai suatu
tujuan yang telah ditetapkan, masing-masing meyakininya. Strategi kolaborasi
tidak akan berjalan jika kompetisi insentif sebagai bagian dari situasi
tersebut, kelompok yang terlibat tidak memiliki kemampuan dalam menyelesaikan
masalah dan tidak adanya kepercayaan dari kedua kelompok/seorangan (Bowditch
& Buono, 1994).
H.
Hasil Konflik
Konflik mengakibatkan hasil yang dapat produktif untuk
pertumbuhan individu atau organisasi. Sebalikanya, konflik dapat sangat destruktif (Kramer, Schmalenberg, 1978;lLewis
1976, Myrtle, Glogow, 1978; Nielsen, 1977) Deutsh( 1969, 1973) menegenali empat
faktor utama yang menentukan hasil
konflik: isu, kekuasaan, kemampuan menanggapai kebutuhan, dan komunikasi
bahasan berikut ini diberikan oleh Kramer dan Schmalenberg (1978).
1. Isu
Pada
konflik yang destruktif, isu di besarkan, dirumuskan secara luas dengan
tambahan secara rinci, dan bermuatan emosi. Pada konflik yang konstuktif, isu
difokuskan dan dipertahankan dalam ukuran yang dapat ditangani. Hanya isu
perifer yang berhubungan hal pokok yang dididkusikan, dan proses pilihannya
adalah aksi (tindakan) bukan reaksi.
2. Kekuasaan
Pada
kekuasaan destruktif, situasi dipertahankan atau diubah melalui ancaman dan
paksaan. Suasananya adalah persaingan dengan hasil menang dan kalah.
Kekuasaan konstruktif meliputi penemuan jalan keluar yang dapat diterima yang
mungkin berupa kompromi atau sebuah jalan keluar yang dapat diterima yang
mungkin diterima yang mungkin berupa kompromi atau sebuah jalan keluar yang
baru; kebutuhan dan pandangan pribadi tidak dipaksakan pada orang lain
3. Kemampuan Menanggapi Kebutuhan
Pada
konflik destruktif, hanya kebutuhan sendiri saja yang dipertimbangkan. Dengan
berjalanya waktu seseorang menjadi semakian yakin bahwa keyakinananya dan
perilakunya adalah benar. Penyelesaaian konflik yang konstruktif ditandai
secara khas oleh penyelesaian yang menanggapi kebutuhan semua pihak yang
terlibat.
4. Komunikasi
Saling
tidak percaya, persepsi yang salah, dan peningkatan muatan emosi tertentu saja
membentuk konflik yang destruktif. Penyelesaian yang konstruktif meliputi
dialog terbuka dan jujur, slaing berbagi kekawatiran, dan mendengarkan dengan
hasrat untuk memahami orang lain. Tujuanya adalah memebuka masalah sehingga
dapat dihadapi secara efektif.
Konflik dapat bermanfaat bagi organisasi, bila pemimpin
mempunyai kemahiran dalam memfasilitasi penyelesain konflik yang konstruktif.Jika
perbedaan pendapat tentang sesuatu isu disuarakan dan jika masalah dibuka, hali
ini menunjukan bahwa orang-orang terlibat dan peduli. Lawan dari cinta bukanlah benci,
tetapi ketidakpedulian. Pada cinta dan benci terdapat energi mereka yang dicintai seseorang
akan memepunyai kekuasaan untuk menibulkan kebencian. Ketidakpedulian bersifat
kosong. Energi ditimbulkan melalui penyelesaian konflik yang efektif
dapat diguanakan secara positif kearah pencapain tujuan. Nielsen (1977)
mengatakan bahwa konflik adalah akar perubahan pribadi dan social (hlm153). Konflik merangsang
penyelesaian masalah dan hasil penyelesaian yang kreatif, konflik dapat
dinikmati, dan memungkinkan perkembangan identitas pribadi.
DAFTAR PUSTAKA
Nursalam.
2011. Manajemen Keperawatan: Aplikasi
Dalam Praktik Keperawatan Profesional Ed. 3. Jakarta: Salemba Medika
Simamora,
R. 2012. Buku Ajar Manajemen Keperawatan.
Jakarta: EGC
Supriyatno.
2005. Manajemen Bangsal Keperawatan.
Jakarta: EGC
Swanburg,
R. 1993. Introductory Manajemen and Leadership for Clinical Nurses. Jakarta:
EGC
Swanburg, Russel C. 2000. Pengantar Kepemimpinan dan manajemen Keperawatan. Jakarta: EGC
Monica.
1998. Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan. Jakarta: EGC.

Comments
Post a Comment