LAPORAN PENDAHULUAN FUNGSI MANAJEMEN KEPERAWATAN
LAPORAN
PENDAHULUAN
FUNGSI
MANAJEMEN
Diajukan
Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Stase
Manajemen Keperawatan
Program Profesi Ners
Stikes Bina
Putera Banjar
Disusun Oleh:
Sri Wahyuni, S.Kep.
NPM: 4012200003
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA
PUTERA BANJAR
PROGRAM STUDI NERS ANGKATAN KE-15
TAHUN AKADEMIK 2019-2020
Jl. Mayjen Lili Kusumah-Sumanding
Wetan No. 33
Kota Banjar
Tlp (0265) 741100 Fax (0265)
744043
web: www.stikesbp.ac.id
FUNGSI MANAJEMEN
A. Pengertian
Manajemen Keperawatan
Manajemen keperawatan
merupakan suatu bentuk koordinasi dan integrasi sumber-sumber keperawatan
dengan menerapkan proses manajemen untuk mencapai tujuan dan obyektifitas
asuhan keperawatan dan pelayanan keperawatan.
Kelly dan Heidental
(2004) dalam Marquis dan Huston (2000), menyatakan bahwa manajemen keperawatan
dapat didefenisikan sebagai suatu proses dari perencanaan, pengorganisasian,
kepemimpinan dan pengawasan untuk mencapai tujuan. Proses manajemen dibagi
menjadi lima tahap yaitu perencanaan, pengorganisasian, kepersonaliaan,
pengarahan dan pengendalian.
Swanburg (2000)
menyatakan bahwa manajemen keperawatan adalah kelompok dari perawat manajer
yang mengatur organisasi dan usaha keperawatan yang pada akhirnya manajemen
keperawatan menjadi proses dimana perawat manajer menjalankan profesi mereka.
Manajemen keperawatan memahami dan memfasilitasi pekerjaan perawat pelaksana
serta mengelola kegiatan keperawatan.
B. Prinsip Umum Manajemen Keperawatan
Prinsip-prinsip manajemen secara umum menurut Fayol terdiri
dari:
1.
Division
of working (pembagian
pekerjaan)
2.
Authority
and responsibility (kewenangan dan tanggungjawab)
3.
Dicipline (disiplin)
4.
Unity
of command (kesatuan
komando)
5.
Unity
of direction (Kesatuan
arah)
6.
Subordination
of individual to generate interent (kepentingan individu tunduk pada kepentingan umum)
7.
Renumeration
of personal (penghasilan
pegawai)
8.
Decentralization (desentralisasi)
9.
Scala
of hierarchy (jenjang
hirarki)
10.
Order (keterlibatan)
11.
Stability
of tunnure personal (stabilitas
jabatan pegawai)
12.
Equity (keadilan)
13.
Inisiative (inisiatif)
14.
Esprit
de corps (Kesetiakawanan
korps).
Seperti juga prinsip-prinsip
manajemen secara umum, prinsip-prinsip yang mendasari
manajemen keperawatan adalah:
1.
Manajemen
keperawatan yang berlandaskan perencanaan, karena melalui fungsi perencanaan
pimpinan/pengelola keperawatan dapat menurunkan risiko terhadap pengambilan
keputusan dan pemecahan masalah yang tidak efektif dan tidak efisien.
2.
Manajemen
keperawatan dilaksanakan melalui penggunaan waktu yang efektif.
Manajer/pengelola keperawatan yang menghargai waktu akan menyusun perencanaan
yang terprogram dengan baik dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan waktu dan
perencanaan yang telah ditentukan sebelumnya.
3.
Manajemen
keperawatan akan melibatkan pengambilan keputusan. Berbagai situasi maupun
permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan kegiatan keperawatan memerlukan
pengambilan keputusan yang tepat diberbagai tingkat manajerial.
4.
Memenuhi
kebutuhan asuhan keperawatan pasien merupakan fokus perhatian manajer/pengelola
keperawatan dengan mempertimbangkan apa yang pasien lihat, pikir, yakini dan
ingini. Kepuasan pasien merupakan point utama dari tujuan keperawatan.
5.
Manajemen
keperawatan harus terorganisir. Pengorganisasian dilakukan sesuai dengan
kebutuhan organisasi pelayanan untuk mencapai tujuan.
6.
Pengarahan
merupakan elemen kegiatan manajemen keperawatan yang meliputi proses
pendelegasian, supervisi, koordinasi dan pengendalian pelaksanaan rencana.
7.
Divisi
keperawatan yang baik memotivasi karyawan untuk memperlihatkan penampilan
kinerja yang baik.
8.
Manajemen keperawatan menggunakan komunikasi yang efektif.
Komunikasi yang efektif akan mengurangi kesalahpahaman dan memberikan persamaan
pandangan, arah dan pengertian diantara pegawai.
9.
Pengembangan staf penting untuk dilaksanakan sebagai upaya
persiapan perawat-perawat pelaksana menduduki posisi yang lebih tinggi ataupun
upaya manajer keperawatan untuk meningkatkan pengetahuan karyawan.
10. Pengendalian merupakan
elemen manajemen keperawatan yang meliputi penilaian tentang pelaksanaan
rencana yang telah dibuat, pemberian instruksi dan menetapkan prinsip-prinsip
melalui penetapan standar, membandingkan penampilan dengan standar dan
memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Berdasarkan
prinsip-prinsip diatas maka para administrator dan manajer keperawatan
seyogianya bekerja bersama-sama dalam perencanaan dan pengorganisasian serta
fungsi-fungsi manajemen lainnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
C. Proses Manajemen
Keperawatan
Henry
Fayol mengungkapkan ada lima fungsi manajemen yang meliputi: Planning,
Organization, Command, Coordination, dan Control. Konsep Fayol
tersebut dimodifikasi oleh Luther Gullick (Marquis & Huston, 2000) dalam
bentuk tujuh aktivitas manajemen yang meliputi: Planning, Organizing,
Staffing, Directing, Coordinating, Reporting, dan Budgeting. Marquis
dan Huston merangkum konsep yang dikemukakan oleh Fayol dan Gullick dengan
mengungkapkan bahwa proses manajemen keperawatan terdiri dari planning,
organizing, staffing, directing, dan controlling yang membentuk
suatu sklus proses manajemen seperti yang tersaji dalam skema dibawah ini:
PROSES
MANAJEMEN
Proses manajemen keperawatan dapat juga dilihat dari
pendekatan sistem, yaitu sebagai sistem terbuka dimana masing-masing komponen
saling berhubungan dan berinteraksi serta dipengaruhi oleh lingkungan. Karena
merupakan suatu sistem maka akan terdiri dari lima elemen utama yaitu input,
process, output, control dan mekanisme umpan balik (Feed back).
Input dari proses manajemen
keperawatan antara lain informasi, personil, peralatan dan fasilitas. Process
dalam manajemen keperawatan adalah kelompok manajer dari tingkat pengelola
keperawatan tertinggi sampai ke perawat pelaksana yang mempunyai tugas dan
wewenang untuk melakukan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan
pengawasan dalam pelaksanaan pelayanan keperawatan. Output adalah
kualitas dari asuhan pelayanan keperawatan, pengembangan staf dan riset.
Control yang digunakan dalam
proses manajemen keperawatan termasuk budget dari bagian keperawatan,
evaluasi penampilan kerja perawat, prosedur standar dan akreditasi. Mekanisme
umpan balik (feed back) berupa laporan finansial, audit keperawatan,
survey kendali mutu dan penampilan kerja perawat.
D.
Peran dan Fungsi Manajemen
Keperawatan
1.
Peran Manajerial
a.
Peran
Interpersonal (Interpersonal Role)
Dalam peran
interpersonal terdapat tiga peran pemimpin yang muncul secara langsung dari
otoritas formal yang dimiliki pemimpin dan mencakup hubungan interpersonal
dasar, yaitu:
1)
Peran sebagai yang dituakan
(Figurehead Role)
Karena posisinya sebagai pemimpin
suatu unit organisasi, pemimpin harus melaksanakan tugas-tugas seremonial
seperti menyambut tamu penting, menghadiri pernikahan anak buahnya, atau
menjamu makan siang pelanggan atau kolega. Kegiatan yang terkait dengan peran
interpersonal sering bersifat rutin, tanpa adanya komunikasi ataupun keputusan
penting. Meskipun demikian, kegiatan itu penting untuk memperlancar fungsi
organisasi dan tidak dapat diabaikan oleh seorang pemimpin.
2) Peran sebagai pemimpin (Leader Role)
Seorang pemimpin bertanggungjawab
atas hasil kerja orang-orang dalam unit organisasi yang dipimpinnya. Kegiatan yang terkait dengan itu berhubungan dengan kepemimpinan secara langsung
dan tidak langsung. Yang berkaitan dengan kepemimpinan secara langsung antara
lain menyangkut rekrutmen dan training bagi stafnya. Sedang yang berkaitan
secara tidak langsung antara lain seorang pemimpin harus memberi motivasi dan
mendorong anak buahnya. Pengaruh seorang pemimpin jelas terlihat pada perannya
dalam memimpin. Otoritas formal memberi seorang pemimpin kekuasaan potensial yang besar; tetapi kepemimpinanlah yang menentukan seberapa jauh potensi
tersebut bisa direalisasikan.
3) Peran sebagai Penghubung (Liaison Role)
Literatur manajemen selalu mengakui peran sebagai pemimpin, terutama aspek
yang berkaitan dengan motivasi. Hanya baru-baru ini saja pengakuan mengenai
peran sebagi penghubung, di mana pemimpin menjalin kontak di luar rantai
komando vertikal, mulai muncul. Hal itu mengherankan, mengingat banyaktemuan
studi mengenai pekerjaan manajerial menunjukkan bahwa pemimpin menghabiskan
waktunya bersama teman sejawat dan orang lain dari luar unitnya sama banyak dengan
waktu yang dihabiskan dengan anak buahnya; sementara dengan atasannya justru
kecil. Pemimpin menumbuhkan dan memelihara kontak tersebut biasanya dalam
rangka mencari informasi. Akibatnya, peran sebagai penghubung sering secara
khusus diperuntukkan bagi pengembangan sitem informasi eksternalnya sendiri
yang bersifat informal, privat, verbal, tetapi efektif.
b. Peran Informasional (Informational Role)
Dikarenakan kontak interpersonalnya, baik dengan anak buah maupun dengan
jaringan kontaknya yang lain, seorang pemimpin muncul sebagai pusat syaraf bagi
unit organisasinya. Pemimpin bisa saja tidak tahu segala hal, tetapi setidaknya
tahu lebih banyak dari pada stafnya. Pemrosesan informasi merupakan bagian
utama (key part) dari tugas seorang pemimpin. Tiga peran pemimpin berikut ini
mendiskripsikan aspek informasional tersebut.
1) Peran sebagai monitor (Monitor Role)
Sebagai yang memonitor, seorang pemimpin secara terus menerus memonitor
lingkungannya untuk memperoleh informasi, dia juga seringkali harus
’menginterogasi’ kontak serta anak buahnya, dan kadangkala menerima informasi
gratis, sebagian besar merupakan hasil jaringan kontak personal yang sudah dikembangkannya.
Perlu diingat, bahwa sebagian besar informasi yang diperoleh pemimpin dalam
perannya sebagai monitor datang dalam bentuk verbal, kadang berupa gosip,
sassus, dan spekulasi yang masih membutuhkan konfirmasi dan verifikasi lebih
lanjut.
2) Peran sebagai disseminator (Disseminator role)
Sebagian besar informasi yang
diperoleh pemimpin harus dimanfaatkan bersama (sharing) dan didistribusikan
kepada anak buah yang membutuhkan.Di samping itu ketika anak buahnya tidak bisa
saling kontak dengan mudah, pemimpinlah yang kadang-kadang harus meneruskan
informasi dari anak buah yang satu kepada yang lainnya.
3) Peran sebagai Juru bicara (Spokesman Role)
Sebagai juru bicara seorang pemimpin mempunyai hak untuk menyampaikan
informasi yang dimilikinya ke orang di luar unit organisasinya.
c. Peran Pengambilan Keputusan (Decisional
Role)
Informasi yang diperoleh pemimpin bukanlah tujuan akhir, tetapi merupakan
masukan dasar bagi pengambilan keputusan. Sesuai otoritas formalnya, hanya
pemimpinlah yang dapat menetapkan komitmen organisasinya ke arah yang baru; dan
sebagai pusat syaraf organisasi, hanya dia yang memiliki informasi yang benar
dan menyeluruh yang bisa dipakai untuk memutuskan strategi organisasinya.
Berkaitan dengan peran pemimpin sebagai pengambil keputusan terdapat empat
peran pemimpin, yaitu:
1) Peran sebagai wirausaha (Entrepreneur Role)
Sebagai wirausaha, seorang pemimpin harus berupaya untuk selalu memperbaiki
kinerja unitnya dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan di mana organisasi
tersebut eksis. Dalam perannya sebagai wirausaha, seorang pemimpin harus selalu
mencari ide-ide baru dan berupaya menerapkan ide tersebut jika dianggap baik
bagi perkembangan organisasi yang dipimpinnya.
2)
Peran sebagai pengendali gangguan (Disturbance handler Role)
Peran sebagai pengendali gangguan memotret keharusan pemimpin untuk
merespon tekanan-tekanan yang dihadapi organisasinya. Di sini perubahan
merupakan sesuatu di luar kendali pemimpin. Dia harus bertindak karena adanya
tekanan situasi yang kuat sehingga tidak bisa diabaikan. Pemimpin seringkali
harus menghabiskan sebagian besar waktunya untuk merespon gangguan yang menekan
tersebut. Tidak ada organisasi yang berfungsi begitu mulus, begitu
terstandardisasi, yaitu telah memperhitungkan sejak awal semua situasi
lingkungan yang penuh ketidakpastian. Gangguan timbul bukan saja karena
pemimpin bodoh mengabaikan situasi hingga situasi tersebut mencapai posisi
kritis, tetapi juga karena pemimpin yang baik tidak mungkin mengantisipasi
semua konsekuensi dari setiap tindakannya.
3) Peran sebagai yang mengalokasikan sumber daya (Resource allocator
Role)
Pada diri pemimpinlah terletak
tanggung jawab memutuskan siapa akan menerima apa dalam unit organisasinya.
Mungkin, sumber daya terpenting yang dialokasikan seorang pemimpin adalah
waktunya. Perlu diingat bahwa bagi seseorang yang memiliki akses ke pemimpin
berarti dia bersinggungan dengan pusat syaraf unit organisasi dan pengambil
keputusan.Pemimpin juga bertugas untuk mendesain struktur organisasi, pola
hubungan formal, pembagian kerja dan koordinasi dalam unit yang dipimpinnya.
4) Peran sebagai negosiator (Negotiator Role)
Banyak studi mengenai kerja
manajerial mengindikasikan bahwa pemimpin menghabiskan cukup banyak waktunya
dalam negosiasi. Sebagaimana dikemukakan Leonard Sayles, negosiasi merupakan way
of life dari seorang pemimpin yang canggih. Negosiasi merupakan
kewajiban seorang pemimpin, mungkin rutin, tetapi tidak boleh dihindari. Negosiasi
merupakan bagian integral dari tugas pemimpin, karena hanya dia yang memiliki
otoritas untuk bisa memberikan komitmen sumber daya organisasi, dan hanya dia
yang memiliki pusat syaraf informasi yang dibutuhkan dalam melakukan negosiasi
penting.
2.
Fungsi manajemen
Menurut Terry (2010: 9), fungsi manajemen dapat dibagi
menjadi lima bagian, yakni planning (perencanaan),
organizing (pengorganisasian), staffing (pengelolaan staf/ ketenagaan), actuating (pelaksanaan), dan controlling (pengawasan)
a. Planning (Perencanaan)
1) Pengertian
Planning (perencanaan) ialah penetapan
pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang
digariskan.Planning mencakup kegiatan pengambilan keputusan, karena termasuk
dalam pemilihan alternatif-alternatif keputusan. Diperlukan kemampuan untuk
mengadakan visualisasi dan melihat ke depan guna merumuskan suatu pola dari
himpunan tindakan untuk masa mendatang.
Pada proses perencanaan, menentukan misi, visi, tujuan,
kebijakan, prosedur, dan peraturan-peraturan dalam pelayanan keperawatan,
kemudian membuat perkiraan proyeksi jangka pendek dan jangka panjang serta
menentukan jumlah biaya dan mengatur adanya perubahan berencana.
2) Proses Perencanaan
Proses
perencanaan berisi langkah-langkah:
a) Menentukan tujuan perencanaan;
b) Menentukan tindakan untuk mencapai
tujuan;
c) Mengembangkan dasar pemikiran
kondisi mendatang;
d) Mengidentifikasi cara untuk mencapai
tujuan; dan
e) Mengimplementasi rencana tindakan
dan mengevaluasi hasilnya.
3) Elemen Perencanaan
Perencanaan
terdiri atas dua elemen penting, yaitu sasaran (goals) dan rencana (plan).
a) Sasaran yaitu hal yang ingin dicapai
oleh individu, kelompok, atau seluruh organisasi. Sasaran sering pula disebut
tujuan. Sasaran memandu manajemen membuat keputusan dan membuat kriteria untuk
mengukur suatu pekerjaan.
b) Rencana adalah dokumen yang
digunakan sebagai skema untuk mencapai tujuan. Rencana biasanya mencakup
alokasi sumber daya, jadwal, dan tindakan-tindakan penting lainnya. Rencana
dibagi berdasarkan cakupan, jangka waktu, kekhususan, dan frekuensi
penggunaanya.
4) Unsur-unsur Perencanaan
Suatu
perencanaan yang baik harus menjawab enam pertanyaan yang tercakup dalam
unsur-unsur perencanaan yaitu:
a) tindakan apa yang harus dikerjakan,
yaitu mengidentifikasi segala sesuatu yang akan dilakukan;
b) apa sebabnya tindakan tersebut harus
dilakukan, yaitu merumuskan faktor-faktor penyebab dalam melakukan tindakan;
c) tindakan tersebut dilakukan, yaitu
menentukan tempat atau lokasi;
d) kapan tindakan tersebut
dilakukan, yaitu menentukan waktu pelaksanaan tindakan;
e) siapa yang akan melakukan tindakan
tersebut, yaitu menentukan pelaku yang akan melakukan tindakan; dan
f) bagaimana cara melaksanakan tindakan
tersebut, yaitu menentukan metode pelaksanaan tindakan.
5) Klasifikasi perencanaan
Rencana-rencana
dapat diklasifikasikan menjadi:
a) Rencana pengembangan.
Rencana-rencana tersebut menunjukkan arah (secara grafis) tujuan dari lembaga
atau perusahaan;
b) Rencana laba. Jenis rencana ini
biasanya difokuskan kepada laba per produk atau sekelompok produk yang
diarahkan oleh manajer. Maka seluruh rencana berusaha menekan pengeluaran
supaya dapat mencapai laba secara maksimal;
c) Rencana pemakai. Rencana tersebut
dapat menjawab pertanyaan sekitar cara memasarkan suatu produk tertentu atau
memasuki pasaran dengan cara yang lebih baik; dan
d) Rencana anggota-anggota manajemen.
Rencana yang dirumuskan untuk menarik, mengembangkan, dan mempertahankan
anggota-anggota manajemen menjadi lebih unggul (Terry, 1993: 60).
6) Tipe-tipe Perencanaan
Tipe-tipe
perencanaan terinci sebagai berikut:
a) Perencanaan jangka panjang (Short Range
Plans), jangka waktu 5 tahun atau lebih;
b) Perencanaan jangka pendek (Long
Range Plans), jangka waktu 1 s/d 2 tahun;
c) Perencanaan strategi, yaitu
kebutuhan jangka panjang dan menentukan komprehensif yang telah diarahkan;
d) Perencanaan operasional, kebutuhan
apa saja yang harus dilakukan untuk mengimplementasikan perencanaan strategi
untuk mencapai tujuan strategi tersebut;
e) Perencanaan tetap, digunakan untuk
kegiatan yang terjadi berulang kali (terus-menerus); dan
f) Perencanaan sekali pakai, digunakan
hanya sekali untuk situasi yang unik.
7) Dasar-dasar Perencanaan yang Baik
Dasar-dasar
perencanaan yang baik meliputi:
a) Forecasting, proses pembuatan asumsi-asumsi
tentang apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang;
b) Penggunaan skenario, meliputi
penentuan beberapa alternatif skenario masa yang akan datang atau peristiwa
yang mungkin terjadi;
c) Benchmarking, perbandingan eksternal untuk
mengevaluasi secara lebih baik suatu arus kinerja dan menentukan kemungkinan
tindakan yang dilakukan untuk masa yang akan datang;
d) Partisipan dan keterlibatan,
perencanaan semua orang yang mungkin akan mempengaruhi hasil dari perencanaan
dan atau akan membantu mengimplementasikan perencanaan-perencanaan tersebut;
e) Penggunaan staf perencana,
bertanggung jawab dalam mengarahkan dan mengkoordinasi sistem perencanaan untuk
organisasi secara keseluruhan atau untuk salah satu komponen perencanaan yang
utama.
8) Tujuan Perencanaan
a) untuk memberikan pengarahan baik
untuk manajer maupun karyawan non-manajerial;
b) untuk mengurangi ketidakpastian;
c) untuk meminimalisasi pemborosan; dan
d) untuk menetapkan tujuan dan standar
yang digunakan dalam fungsi selanjutnya.
b. Organizing.
1) Pengertian
Organizing adalah proses dalam memastikan
kebutuhan manusia dan fisik setiap sumber daya tersedia untuk menjalankan rencana
dan mencapai tujuan yang berhubungan dengan organisasi. Organizing juga
meliputi penugasan setiap aktifitas, membagi pekerjaan ke dalam setiap tugas
yang spesifik, dan menentukan siapa yang memiliki hak untuk mengerjakan
beberapa tugas.
Aspek utama lain dari organizing adalah pengelompokan
kegiatan ke departemen atau beberapa subdivisi lainnya. Misalnya kepegawaian,
untuk memastikan bahwa sumber daya manusia diperlukan untuk mencapai tujuan
organisasi.Memekerjakan orang untuk pekerjaan merupakan aktifitas kepegawaian
yang khas.Kepegawaian adalah suatu aktifitas utama yang terkadang
diklasifikasikan sebagai fungsi yang terpisah dari organizing.
2) Ciri-ciri Organisasi
Ciri-ciri
organisasi adalah sebagai berikut:
a) mempunyai tujuan dan sasaran;
b) mempunyai keterikatan format dan
tata tertib yang harus ditaati;
c) adanya kerjasama dari sekelompok
orang; dan
d) mempunyai koordinasi tugas dan
wewenang.
3) Komponen-komponen Organisasi
Ada
empat komponen dari organisasi yang dapat diingat dengan kata “WERE” (Work, Employees, Relationship dan
Environment).
a) Work (pekerjaan) adalah fungsi yang
harus dilaksanakan berasal dari sasaran-sasaran yang telah ditetapkan.
b) Employees (pegawai-pegawai) adalah setiap
orang yang ditugaskan untuk melaksanakan bagian tertentu dari seluruh
pekerjaan.
c) Relationship (hubungan) merupakan hal penting di
dalam organisasi. Hubungan antara pegawai dengan pekerjaannya, interaksi antara
satu pegawai dengan pegawai lainnya dan unit kerja lainnya dan unit kerja
pegawai dengan unit kerja lainnya merupakan hal-hal yang peka.
d) Environment (lingkungan) adalah komponen
terakhir yang mencakup sarana fisik dan sasaran umum di dalam lingkungan dimana
para pegawai melaksanakan tugas-tugas mereka, lokasi, mesin, alat tulis kantor,
dan sikap mental yang merupakan faktor-faktor yang membentuk lingkungan.
4) Tujuan organisasi
Tujuan
organisasi merupakan pernyataan tentang keadaan atau situasi yang tidak
terdapat sekarang, tetapi dimaksudkan untuk dicapai pada waktu yang akan datang
melalui kegiatan-kegiatan organisasi (Handoko, 1995: 109).
5) Prinsip-prinsip organisasi
Williams
(1965: 85) mengemukakan pendapat bahwa prinsip-prinsip organisasi meliputi :
a) prinsip bahwa organisasi harus
mempunyai tujuan yang jelas ;
b) prinsip skala hirarki;
c) prinsip kesatuan perintah;
d) prinsip pendelegasian wewenang;
e) prinsip pertanggungjawaban;
f) prinsip pembagian pekerjaan;
g) prinsip rentang pengendalian;
h) prinsip fungsional;
i)
prinsip
pemisahan;
j)
prinsip
keseimbangan;
k)
prinsip
fleksibilitas; dan
l)
prinsip
kepemimpinan.
6) Manfaat pengorganisasian
Pengorganisasian
bermanfaat sebagai berikut:
a) dapat lebih mempertegas hubungan
antara anggota satu dengan yang lain;
b) setiap anggota dapat mengetahui
kepada siapa ia harus bertanggung jawab;
c) setiap anggota organisasi dapat
mengetahui apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab masing-masing sesuai
dengan posisinya dalam struktur organisasi;
d) dapat dilaksanakan pendelegasian
wewenang dalam organisasi secara tegas, sehingga setiap anggota mempunyai
kesempatan yang sama untuk berkembang; dan
e) akan tercipta pola hubungan yang
baik antar anggota
f) organisasi, sehingga memungkinkan
tercapainya tujuan dengan mudah.
7) Kegiatan dalam fungsi
organizing meliputi:
a) Menentukan model penugasan
keperawatan sesuai dengan keadaan klien dan ketenagaan
b)
Mengalokasikan
sumber daya, merumuskan dan menetapkan tugas, dan menetapkan prosedur yang
diperlukan
c)
Menetapkan
struktur organisasi yang menunjukkan adanya garis kewenangan dan tanggungjawab
d)
Kegiatan
perekrutan, penyeleksian, pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia/tenaga
kerja
e)
Kegiatan
penempatan sumber daya manusia pada posisi yang paling tepat
f)
mengelompokkan
aktivitas-aktivitas untuk mencapai tujuan dari unit
g)
bekerja
dalam struktur organisasi yang telah ditetapkan dan memahami serta menggunakan
kekuasaan dan otoritas yang sesuai.
c. Staffing (pengelolaan
staf)
Pengelolaan staf adalah penarikan (recruitment)
latihan dan pengembangan serta penempatan dan pemberian orientasi pada karyawan
dalam lingkungan kerja yang menguntungkan dan produktif.
d.
Actuating (pelaksanaan)
Pelaksanaan merupakan usaha menggerakkan
anggota-anggota kelompok sedemikian rupa, hingga mereka berkeinginan
dan berusaha untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan
bersama Terry (1993:62).
e.
Controlling (Pengawasan)
1)
Pengertian Controlling
Controlling atau pengawasan adalah penemuan dan
penerapan cara dan alat untuk menjamin bahwa rencana telah
dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
2) Tahap-tahap Pengawasan
Tahap-tahap
pengawasan terdiri atas:
a) penentuan standar;
b) penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan;
c) pengukuran pelaksanaan
kegiatan;
d) pembanding pelaksanaan dengan
standar dan analisa penyimpangan; dan
e) pengambilan tindakan koreksi bila
diperlukan.
3) Tipe-tipe Pengawasan
a) Feed forward Control dirancang untuk
mengantisipasi masalah-masalah dan penyimpangan dari standar
tujuan dan memungkinkan koreksi sebelum suatu kegiatan
tertentu diselesaikan.
b) Concurrent Control merupakan proses dalam aspek
tertentu dari suatu prosedur harus disetujui dulu sebelum
suatu kegiatan dilanjutkan atau untuk menjamin ketepatan pelaksanaan
suatu kegiatan.
c) Feedback Control mengukur hasil-hasil dari suatu
kegiatan yang telah dilaksanakan.
4) Kegiatan dalam controlling
Meliputi
pelaksanaan penilaian kinerja staf, pertanggungjawaban keuangan, pengendalian
mutu, pengendalian aspek legal dan etik serta pengendalian profesionalisme
asuhan keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA
Kontoro, Agus. 2010. Buku Ajar Manajemen Keperawatan.
Yogyakarta: Nuha Medika.
Gillies, D. A. 1994. Nursing management : A system
approach ,Third edition. Philadelphia: WB. Saunders Company.
Kron
& Gray. 1987. The management of
patiEnt care putting leadershipskill to work. Philadelphia: WB. Saunders
Company.
Marguis
& Huston. 2000. Leadership
role and management in nursing: theory and application. Philadelphia:
Lippincott.
Sullivan.
1989. Effective management in
nursing. California: Addison-Wesley Publishing Company.
Swamburg.
1999. Management and leadership for
nurse manager. Boston: Jones and Barlett Publishers.
Tappen
& Ruth. 1998. Essentials of
nursing leadership and management. Philadelphia: FA. Davis Company.


Comments
Post a Comment